Rabu, 20 Februari 2013

Mengapa monitoring biologi itu penting


Pencemaran perairan merupakan salah satu isu lingkungan yang menjadi permasalahan utama pada beberapa negara berkembang. Pencemaran dapat timbul sebagai akibat kegiatan manusia (antropogenik) ataupun dapat terjadi secara alamiah. Adanya kegiatan manusia yang tidak terkendali telah memicu terjadinya pencemaran lingkungan yang tidak terkendali pula. Aktivitas antropogenik secara dramatik mengubah regim dari input bahan organik, nutrien, maupun logam berat ke dalam ekosistem sungai melalui perubahan penggunaan lahan maupun urbanisasi (Singer & Battin, 2007). Adanya pencemaran organik dan kontaminasi logam berat ke ekosistem sungai telah diketahui dapat memberikan dampak negatif bagi kestabilan komunitas makroinvertebrata di perairan. Pengaruh bahan polutan tersebut mungkin mengurangi keanekaragaman spesies, kepadatan, dan hilangnya spesies yang tergolong sensitif (Timm et al., 2001; Chakrabarty & Das, 2006).
Metode monitoring lingkungan perairan khususnya perairan sungai selama ini hanya mencakup monitoring menggunakan pendekatan fisika maupun kimia saja, padahal kondisi ekologi dari sungai itu sendiri merupakan kondisi yang cukup unik yang berbeda dengan ekosistim perairan tergenang seperti danau, rawa, ataupun laut. Monitoring daerah aliran sungai dengan pendekatan pengukuran faktor fisika dan kimia saja akan menyebabkan banyak informasi yang hilang atau tidak begitu akurat hal ini terkait dengan dinamika yang terjadi disungai dimana laju pencucian (flushing rate) yang begitu tinggi sehingga menyebabkan kontaminan organik ataupun logam berat akan cepat hilang dari perairan. Selain itu pada pengukuran parameter fisika dan kimia akan mengalami kesulitan interpretasi jika sumber pencemar tersebut berumber dari bahan-bahan pencemar non-point source yang selama ini sangat sulit dikendalikan. Dengan menggunakan pendekatan biologi (makroinvertebrata) diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih akurat terhadap proses dinamika bahan pencemar diperairan (Al-shami et al., 2011).
Monitoring biologi merupakan  merupakan sebuah alat monitoring yang sangat efiektif untuk menduga kualitas ekologi suatu lingkungan perairan. Menggunakan monitoring secara kimia juga merupakan alat monitoring yang efektif akan tetapi membutuhkan biaya yang mahal dan biasanya hanya memberikan informasi yang terbatas mengenai keadaan suatu lingkungan perairan secara detail. Parameter biologi juga dapat memberikan informasi mengenai keadaan sebelumnya dari kondisi suatu lingkungan perairan. Metode perhitungan biologi ini juga menawarkan keuntungan jika diaplikasikan pada lingkungan lotic neotropikal. Pada penelitian ini menawarkan metode penggabungan metode survey fisika kimia karena merupakan efek akhir yang ditimbulkan oleh kedua faktor tersebut. Keuntungan lain menggunakan bentik makroinvertebrata adalah proses identifikasinya saat ini dinilai lebih baik jika dibandingkan dengan organisme bentik lainnya seperti alga ataupun mesofauna, dengan demikian biomonitoring diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih mendetail mengenai kondisi perairan sungai.
Penelitian  yang dilaksanakan pada beberapa segmen sungai di Ohio menunjukkan bahwa pengukuran parameter kimia saja tidak berhasil menjelaskan kondisi perairan secara menyeluruh termasuk kondisi biologi dan integritas ekologi system akuatik. Sebagai contoh pendugaan status perairan sungai menggunakan indicator biologi telah terbukti menjelaskan sebesar 50% dari 645 segmen sungai di Ohio, sebaliknya pada saat pengukuran parameter kimia justu tidak menunjukan gangguan (Adams, 2002). Perubahan struktur populasi dari organisme makroinverberata sangat erat kaitannya dengan dinamika bahan pencemar yang masuk ke perairan. Semakin baik (bersih) kondisi perairan maka akan semakin beragam pula organisme yang hidup didalamnya (khususnya intolerant spesies), sebaliknya jika kondisi perairan semakin menurun makan akan menurunkan tingkat kenaekaragaman karena organisme-organisme intoleran tidak ditemukan

Rabu, 05 Desember 2012

Unhalu


Meingkatkan kompetensi mahasiswa unhalu dengan kegiatan-kegiatan ilmiah

Pendidikan tinggi merupakan sesuatu hal yang harus diutamakan dalam proses pengembangan sumberdaya manuia dalam suatu daerah, karena itulah ini merupakan tanggung jawab kita semua mulai dari orang tua hingga pemerintah. Meyikapi masaalah ini pemerintah sesungguhnya telah membuka lebar-lebar peluang bagi seluruh masyarakat indonesia untuk mengecap pendidikan tinggi. Hal ini terlihat dari besarnya alokasi anggaran dari APBN sebesar 20%  atau sekitar 20 trilun rupiah. Tentunya ini merupakan jumlah yang sangat besar, namun pertanyaannya bagimana kita meaksimalkan peluang tersebut?? namun dalam pembahasan kali ini penulis akan membahas bagimana sebenarnya peran universitas sebagai pabrik masyarakat intelektual dan bagaimana mahasiswa menjadi yang seharusnya.

Bulan mei merupakan bulan pendidikan yang setiap tahun dirayakan sebagai hari pendidikan nasional yang biasanya selalu di mulai dengan upacara bendera. Tentunya kita tidak menginginkan bahwa peringatahn hari pendidikan nasional hanya merupakan kegiatan tahunan yang tidak mempunyai makna apa-apa. Seharusnya setiap tahun kita harus sudah melihat kemajuan yang paling tidak bisa dibanggakan oleh mahasiswa maksudnya kebanggaan dalam hal positif bukan kebanggaan dalam konteks negatif. Kita tidak ingin mendengar lagi kerusuhan mahasiswa Vs mahasiswa atau mahasiswa Vs polisi yang betul-betul sangat memalukan baik untuk institusi itu sendiri dan seluruh civitas akademikanya termasuk alumni-alumninya.

Universitas haluoleo merupakan universitas terbesar di sultra dengan mahasiwa mencapai 20.000 orang, hal ini merupakan modal besar dalam menciptakan masyarakat2 intelektual yang masih sangat dibutuhkan dalam pengembagan daerah di sultra. Selain jumlah mahasiswa yang sedemikianbesar unhalu juga dihuni oleh tenaga-tenaga pengajar yang sangat propesional yang meruipakan lulusan-lulusan universitas terbaik dalam negeri maupun beberapa universitas besar di amerika dan eropa asia.
Tentunya dengan usia unhalu yag sdh mendekati kepala 3 tentunya rencana pengembangan kemahasiswaan harusnya telah menjadi lebih matang. Kematangan suatu institusi tentunya diukur dari seberapa besar produk yang dihasilkan oleh suatu institusi, selain itu seberapa bagus prodak yg dihasilkan. Karena prodak akhir merupakan tolak ukur keberhasilan suatu institusi. Yang saya maksud prodak disini adalah mahasiswa yang pabriknya adalah institusi universitas haluoleo.

Menjelang hari pendidikan nasional tanggal 2 mei tentunya kita harus kembali melihat seberapa jauh peran mahasiswa sebagai agen yang katanya membawa perubahan, tidak usah jauh-jauh perubahan untuk diri sendiri dulu, apa yang telah kita berikan untuk daerah dan institusi. Kita pasti tau istilah garbage in, garbage out, sampah masuk maka sampah pula yang akan keluar. Artinya jika inputnya bermasalah maka outputnya juga akan bermasalah. Istilaha inio sebenarnya tidak sepenuhnya benar apabila dihadapkan pada peran sebuah universitas seharusnya kita mengubah istilah diatas menjadi garbage ini diamond out ii filosofi yang harusnya tertanam dalam benak seluruh civitas akademika dalam sebuah unversitas. Universitas seharusnya menjadi treatment site yang dapat m,engubah pola pikir anak didik dari awalnya masih biasa menjadi luar biasa agar menjadi sesuatu yang lebih berguna atau tepatnya siap pakai.

Proses perubahan dari mahasiswa biasa menjad mahasiswa luar buasa tentunya dihadapkan pada beberapa tahapan yang harus dilalui. Tahapan yang dimaksud adalah tahapan pemilihan calon mahasiswa, kmeudian kegiatan-kegiatan mahasiswa, pemberdayaan mahasiswa atau dengan mendorong masiswa agar memiliki peran yang aktiv bagi masyarakat sehingga cenderung terjun ke masyarakat untuk mengetahui kejadian sebenarnya di masyarakat sesuai dengan jurusan mahasiswa.
Sebanarnya terlalu banyak kegiatan mahasiswa yang bisa dilakukan untuk menunjang skill mahasiswa, dimulai dari Lomba Karya Tulis Ilmiah, PKM atau bahkan kompetisi-kompetisi lain yang sangat sering dilaksanakan secara nasional. Sebenarnya hal ini sudah banyak disadari oleh masyarakat akademis di kampus tinggal bagaimana pihak universitas lebih kreatif lagi dalam merngemas atau mempersiapkan menghadapi even-even tersebut. Di universitas-universitas maju semiasal UGM, UI, IPB atau unibraw kegiatan-kegiatan tersebut merupakan agenda-agenda tahuanan yang sangat bergengsi yang merupakan pesta akademis mahasiswa tahunan juga mnerupakan tolak ukur sejauh mana mahasiswa suatu universitas berkarya. Tentunya setiap orang yang pernah mencecam pendidikan di universitas tersebut tentunya bisa melihat betapa seringnya diadakan pameran hasil karya mahasiswa muali dari hasil penelitian, kewirausahan atau karya-karya dibidang teknologi yang dibalut dalam suatu acara. Tentunya kita masih teringat prestasi univeristas Haluoleo dalam PIMNAS tahun 2000 dimana kita berhasisl menyabet 1 emas, 1 perak dan 1 perunggu. Ini merupakan prestasi yang harus kita ulangi dan kita tingkatkan sehingga univerditas ini memiliki nama dan menjadi universitas yang disegani di Indonesia.
Sudah seharusnya Universitas haluoleo melirik proses pembinaan mahasiswa diniversitas-universitas maju sehingga dapat menciptakan mahasiswa-mahasiswa unggul yang bisa membawa nama baik universitas. Saya meyakini berapa banyak proffessor yang dihasilkan oleh unhalu tidak akan sebanding jika tidak menghasilkan mahasiswa-mahasiswa kreatif yang sipa pakai dan keilmuannya dihargai minimal di daerah sendiri.
SEMOGA.....

Rabu, 27 Juni 2012

copas puisi :)


Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga dalam wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdidnding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya???
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini aku melihat warna syurga dr mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta??
Tapi aku pasti akan kembali dlm satu purnama
Untuk mempertanyakan lagi cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa, tapi untukku
Karena aku butuh kamu
Itu saja..

Selasa, 12 Juni 2012

whole time i'm in...


Wisudanya fendi


Monas Euyyy



Masa2 S1

agak Buram Madridtista


Surabaya-Sidoarjo

Seminarnya Yani

Kamis, 31 Mei 2012

Sedikit Refreshing Mengingat Masa Lalu

allah pasti memberinkan yg terbaik.. aq yakin itu...
Saat iniaq merasakan seperti ada kekuatan yang mengiringq kepada Allah... aq bisa merasakan betapa syngnya Allah padaq... dik aq menulis ini karna aq tidak tahu kepada syp lagi aq akn mencurahkan isi hatiq kecuali padamu...

dik... benarlah ketika Allah berfirman sesungguhnya penglihatan, pendengaran dan hati kita akan dimintai pertanggung jawabannya...

Meski sebenarnya terkadang aq masih selalu mengingatmu, mengingat pwertama kali kita bertemu, brkenalan. banyak waktu yg telah kita lalui... tahu tidak??? rasannya seperti kehilangan sesuatu yg sangat berharga dalam hidupQ dan sangt sulit aq melupakannya...

namun aq yakin dengan niatq yg iklas demi cintaNya akn kusimpan semuanya...
didalam hatiq dan berharap Allah memberikan kita Sesuatu yg terbaik buat kita... dan Allah maha mengetahui semuanya.....



aku menulis kalimat ini 27 Oktober 2009 kepada seorang ....????????????????? sekarang 31 Mei 2012

mengenal PCA (principal Component Analysis dan Corespondance Analysis (CA)


Maaf dalam tulisan ini rumusnya tdk ikut terkopi dan bisa dilihat dalam buku :

Bengen DG, 2000. Teknik Pengambilan Contoh dan Analisa Biofisik Sumberdaya Pesisir. Bogor: PKSPL IPB.


Principal Components Analisys (PCA) biasa disebut juga analisis komponen utama merupakan teknik ordinasi langsung yang telah secara luas digunakan dalam model ekologi guna karakterisasi hubungan antara variabel lingkungan yang mempengaruhi spesies dan lokasi sampling. Analisis komponen utama merupakan metode statistik deskriptif yang memberikan gambaran lebih mudah dibaca atau diinterprestasikan dalam bentuk grafik, informasi maksimum yang terdapat pada suatu matriks data. Matriks data yang dimaksud terdiri dari stasiun pengamatan sebagai individu statistik (baris) dan parameter fisika kimia air sebagai variabel kuantitatif (Kolom). Tujuan utama penggunaan analisis komponen utama antara lain untuk mempelajari suatu matriks data dari sudut pandang kemiripan antara individu (stasiun) dan hubungannya dengan variabel lingkungan serta menghasilkan suatu representasi grafik yang memudahkan interpretasi (Bengen, 2000). Persamaan analisis ini dapat dilihat pada persamaan dibawah ini:

Dimana :
d2(i,i’) = 2 baris
i & i’    = Indeks untuk baris, dari baris ke-i sampai ke-i’
j           = Indeks untuk kolom
Semakin kecil jarak Euclidean antar stasiun pengamatan, maka semakin mirip karasteristik antara stasiun tersebut. Proses pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Multivariate Statistical Package (MVSP) versi 3.1
Contoh Hasil Analisis PCA


Analisis statistik multivariat Correspondence Analysis (CA) disebut juga dengan analisis faktorial koresponden diterapkan guna mengetahui adanya pengelompokkan komunitas Ephemeroptera pada setiap stasiun pengamatan. Analisis faktorial koresponden adalah suatu metode statistik yang bertujuan untuk mencari hubungan yang erat antara modalitas dari dua karakter /variable pada variable matriks data kontigensi serta mencari hubungan yang erat antara seluruh modalitas karakter dan kemiripan antar individu berdasarkan kofigurasi jawabannya pada matriks data (Bengen, 2000). Untuk membandingkan dua objek, maka perlu diberikan suatu pengukuran yang dapat mengkarasteristikan kemiripan atau ketidak miripan. Dalam hal ini analisis faktorial koresponden menggunakan jarak khi-kuadrat.
Jarak khi-kuadrat difirmulasikan sebagai berikut:
Dimana:
Xi        : Jumlah baris I untuk semua kolom
Xij       : Jumlah kolom j untuk semua baris
Pada matriks data, terdiri dari baris-i (genera Ephemeroptera) dan kolom- j (stasiun pengamatan), dimana pada baris ke-I dan kolom ke-j ditemukan kelimpahan ephemeroptera.
Contoh Hasil Analisis CA


Selasa, 29 Mei 2012

Pengelolaan Sumberdaya Perikanan


Tugas:
PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN
Nama                          : R o b i n
NRP                            : C251100061
Dosen                          : Ir. Kiagus Abdul Aziz, MSc.

PENGELOLAAN PERIKANAN BERBASIS EKOSISTEM

A. PENDAHULUAN
Populasi ikan diseluruh dunia hampir telah mengalami overeksploitasi yang secara langsung menyebabkan kelangsungan ekosistem perairan menjadi terancam. Banyaknya aktivitas perikanan yang tidak ramah lingkungan seperti pengeboman dan penggunaan bahan-bahan beracun untuk menangkap ikan menyebabkan banyaknya kematian ikan-ikan nontarget, perubahan demografi populasi serta mendorong terjadinya perubahan fungsi dan struktur ekosistem.








Selama ini konsep manajemen perikanan dilakukan secara tidak efektif karena biasanya hanya terfokus pada target yaitu berupa ikan dengan mengabaikan faktor-faktor lingkungan seperti kondisi habitat, predator, dan kondisi mangsa dari spesies tersebut dan interaksi antara faktor-faktor pendukung lainya. Biaya tidak langsung sosial ekonomi menjadi sangat penting untuk diketahui, sebagai contoh terjadi lebih dari 90% kematian tahunan dari ikan marlyn putih  (ikan ini masuk daftar spesies terancam punah dari US Endangered Spesies Act) sebagai hasil tangkapan sampingan dari perikanan tuna longline. Kejadian ini merupakan masaalah dari perikanan wisata berupa sport fishing yang merugikan negara Amerika Serikat sebesar 2 miliyar dollar/tahun.
Keadaan tersebut mendorong para pemerhati lingkungan mengusulkan sebuah upaya pendekatan yang sifatnya holistik dalam hal ini mereka merekomendasikan pendekatan yang menyeluruh dan konsisten dalam pengelolaan perikanan. Manajemen perikanan berbasis ekosistem (MPBE) merupakan salah satu instrumen pendekatan dalam pengelolaan perikanan yang menekankan pada pengelolaan ekosistem dibanding dengan pendekatan pada spesies target.
B. PENDEKATAN MPBE DALAM PENGELOLAAN SINGLE SPESIES
Secara keseluruhan tujuan dari pendekatan MPBE adalah menekankan pada keberlanjutan sumberdaya ekosistem laut yang dapat mendukung kegiatan perikanan. Secara khusus MPBE haruslah menghindari rerjadinya (1) degradasi ekosistem yang diukur berdasarkan indikator kualitas lingkungan dan status sistem, (2) Pada beberapa kasus pendekatan ini dapat meminimalkan resiko perubahan habitat alami ikan dan proses-proses dalam ekosistem; (iii) membangun dan mengembangkan keuntungan sosial ekonomi jangka panjang tanpa menggangu ekosistem; (vi) menumbuhkan pengetahuan yang cukup mengenai proses-proses dalam ekosistem dalam pengertian untuk memahami setiap interaksi yang terjadi didalamnya utamanya interaksi dengan manusia. Kurangnya pegetahuan mengenai hal ini dalam masyarakat mendorong terjadinya pemahaman yang salah dalam pengelolaan perikanan, sehingga pendekatan ini dapat diadopsi dalam pengelolaan perikanan disuatu wilayah.
Pelaksanaan pendekatan MPBE seharusnya digerakkan dan dikembangkan dengan cara membangun komunikasi dan standar sistem level, poin rujukan,  dan kontrol aturan dalam pengambilan keputusan pengelolaan single spesies; dalam pendekatan ini kita harus dapat menjamin bahwa total biomassa ikan dari semua aktivitas perikanan dalam suatu ekosistem tidak melebihi jumlah total dari produktivitas sistem dalam ekosistem. Setelah itu menghitung  kebutuhan setiap komponen lingkungan seperti spesies non target, spesies yang dilindungi, habitat dan bermacam-macam interaksi trofik dalam perairan. Membangun sebuah sebuah karasteristik sistem dengan batas-batas tertentu kemungkinan dapat melindungi ketahanan ekosistem dan menghindari perubahan-perubahan akibat ancaman dari luar.
MPBE haruslah menggambarkan secara menyeluruh mengenai pemanfaatan habitat laut oleh manusia dalam hal ini kerentanan ekosistem dalam menghadapi aktifitas perikanan atau aktifitas-aktifitas lain yang dapat mengancam ekosistem tersebut. Selain itu MPBE juga harus dapat mengidentifikasi potensi kerusakan akibat kegiatan-kegiatan perikanan serta dapat menguraikan permasalahan habitat terhadap spesies pada proses-proses penting dalam populasi. Perlindungan terhadap habitat esensial bagi ikan dan komponen-komponen ekosistem lainnya dari kegiatan perikanan yang merusak dapat meningkatkan keanekaragaman ikan dan kelimpahannya. Selanjutnya zonasi laut pada beberapa bentuk dan tingkatannya dapat membatasi aktifitas kegiatan manusia pada lingkungan laut baik secara spasial maupun temporal merupakan bagian penting dari pendekatan MPBE.
Dampak dari adanya aktifitas perikanan pada beberapa spesies terancam punah dan spesies yang dilindungi utamanya terletak pada proses-proses ekologi yang menyangkut masaalah kecepatan pulih dari spesies-spesies tersebut, dan hal inilah yang dalam pendekatan MPBE seharusnya dapat diatur atau dikendalikan. Pada pengelolaan aktifitas perikanan single spesies, pendekatan MPBE menunjukan kesuksesan dimana pendekatan ini dapat mengurangi hasil tangkapan sampingan dari spesies-spesies yang dilindungi, pada beberapa kasus (contohnya tertangkapnya penyu sebagai hasil tangkapan sampingan pada perikanan trawl). Pendekatan MPBE juga harus dapat mencegah dampak langsung dari aktifitas perikanan (contohnya melindungi feeding ground ikan kerapu).
Tujuan lain dari pendekatan MPBE adalah untuk mengurangi hasil tangkapan sampingan yang berlebihan, dalam hal ini untuk mengurangi tertangkapnya spesies nontarget atau spesies yang tidak diinginkan seperti juvenile ikan yang diketahui memgang peranan penting dalam kerlenjutan proses-proses ekologi lainnya (menyangkut rantai makanan). Secara global buangan hasil tangkapan sampingan dari kegiatan-kegiatan perikanan diseluruh dunia mencapai 27 juta metrik to dihitung dari ¼ total tangkapan ikan diseluruh dunia. Permasalahan bycatch dapat diatasi dengan cara zonasi perairan laut dengan pembatasan alat tangkap pada daerah-daerah yang dilindungi, dengan kata lain pengembangan dan penyebaran alat tangkap yang ramah lingkungan dapat mengurangi terjadinya penangkapan yang merusak sumberdaya.
Akhirnya, MPBE haruslah melindungi spesies target dalam konteks perlindungan pada setiap tingkatan dalam sistem, habitat, spesies yang dilindungi dan nontarget spesies. MPBE dapat diterapkan pada sebuah sistem yang berbeda dalam hal tingkatan informasi dan ketidakpastian melalui pendekatan kebijakan yang tepat dan mitigasi masaalah.
Dalam buku Successful Fisheries Management, Issues, case studies and perspective, diberikan contoh betapa pentingnya suatu pengelolaan perikanan yang berbasis pada eksostem. Sebagai contohnya adalah upaya restoking sand ell di shetland menunjukan perkembangan yang sangat baik ketika diadakan pendekatan dalam perlindungan lingkungannya, utamanya dalam penetapan areal konservasi yang menerapkan sistem buka-tutup daerah penangkapan ikan. Hal ini sesuai dengan pronsip-prinsip dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan, dimana melindungi spesies target dan juga secara langsung melindungi lingkungannya.
Keuntungan lain dalam pendekatan MPBE adalah dalam situasi data yang kurang maupun tidak ada sama sekali mengenai status target spesies ataupun proses-proses ekosistem, MPBE dapat secara sederhana memasukan sejarah alamiah dan pengetahuan umum untuk membangun upaya pencegahan dalam batasan-batasan keamanan, seperti ppengurangan dan pembatasan hasil tangkapan atau penutupan daerah tangkapan secara besar-besaran. Contohnya adanya pengaturan quota penangkapan sellfish dan sand ell di shetland telam memberikan dampak yang signifikan terhadap pemulihan sumberdaya tersebut yang sebelumnya telah mengalami overeksploitasi. Pada daerah dengan sumber informasi yang lumayan bagus (contohnya terdapat data tangkapan, trend kelimpahan tangkapan untuk spesies kunci) pendekatan MPBE ini akan sangat effektif dilakukan pada pendekatan spesies tunggal dalam hal pencegahan dan perlindungan pada sistem-sistem dalam ekosistem.
Tujuan pengelolaan yang ditargetkan dan peningkatan kumpulan data untuk ekosistem dengan prioritas tinggi dapat memajukan pendekatan MPBE secara menyeluruh. Dengan peningkatan jumlah data pengelolaan dapat mengembangkan sebuah sistem yang memiliki indikator pada setiap sasaran pengelolaan yang telah dimonitoring. Selain itu dengan data yang banyak upaya-upaya pencegahan kegagalan dapat diminimalisir.
Pada daerah-daerah dengan data perikanan yang kurang, pendekatan MPBE dapat difasilitasi dengan menggunakan pendekatan adaptif manajemen dan pemahaman yang baik mengenai bagaimana respon ekosistem terhadap strategi perikanan alternatif, contohnya sebuah wilayah dapat digunakan sebagai control terhadap dampak kegiatan perikanan terhadap komunitas bentik.
C. PENDEKATAN MPBE PADA PENGELOLAAN PERIKANAN MULTISPESIES
Pada perikanan multispesies memiliki perbedaan yang cukup mendasar dengan perikanan single spesies. Selama ini model-model atau pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan multispesies meru[pakan pengembangan dari pendekatan pengelolaan single spesies. Inilah tantangan pengelolaan perikanan masa kini, sehingga diperlukan dikembangkannya sebuah model analitikal baru atau instrurumen pengelolaan yang dapat mewakili perikanan multispesies. Multispesies dan ekotropik model yang akan dibangun harus dapat menyaring dan memperluas sebuah nilai yang lebih baik untuk menjelaskan sebuah level sistem yang tidak pasti, dalam hal ini mendorong munculnya sebuah titik tingkat rujukan dalam pengelolaan perikanan. Hal ini disebabkan karena MPBE dapat memperluas habitat dan fungsi ekosistem dalam konteks fluktuasi dan perkembangan model MPBE seharusnya menggabungkan struktur spasial dan proses-proses lingkungan.
Prinsip-prinsip umum dalam pendekatan MPBE pada daerah-daerah tropis (multispesies) memerlukan kerjasama dari semua pihak yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya perikanan, hal ini bertujuan untuk menyatukan visi dan misi rencana pengelolaan perikanan dalam menghadapi hambatan-hambatan institusional dan hambatan ekonomi yang biasanya terjadi pada negara-negara berkembang. Sebagai contoh adanya inisiatif yang terbentuk di Filiphina yang menerapkan panduan-panduan pengelolaan menggunakan pendekatan MPBE yang disepakati oleh NOAA, FAO dan WWF. Dalam hal ini  mempertimbangkan aspek sosial, ekologi dan konteks sejarah.
C. PENUTUP
Pendekatan MPBE dibutuhkan untuk membangun semua komponen yang terdapat dalam model pengelolaan yang ada dan telah dibuktikan secara empiris pada beberapa negara di dunia baik pendekatannya multispesies maupun single spesies. MPBE dalam penerapannya mungkin memerlukan evolusi dari rencana pengelolaan single spesies sebelum diterjemahkan atau dikembangkan menjadi model multispesies. Membangun kembali sebuah ekosistem pada setiap tingkatannya meskipun akan memberikan beban dalam hal penggunaan dana dalam penerapannya.
DAFTAR PUSTAKA
Christie, Patrick et, al. 2006. Assessing the feasibility of ecosystem-based fisheries management in tropical contexts. Marine Policy 31 239–250
Pikitch et, al. 2004. Ecosystem-Based Fishery Management. Journal Science Vol. 305.
Cunningham & Bostock. 2005. Successful  Fisheries Management Issues, Case Studies and Perspective. Eburon. UK